Sederhananya, tahi lalat disebabkan oleh pertumbuhan sel yang tidak normal di kulit. Namun, pertumbuhan abnormal tidak selalu berarti kanker. Menurut American Academy Dermatology (AAD), secara keseluruhan, memperkirakan rata-rata 10 hingga 40 tahi lalat per orang.

Beberapa orang terlahir dengan tahi lalat, seperti halnya dengan nevus bawaan. Bahkan beberapa tahi lalat bisa menjadi kanker, tetapi sebagian besar tidak berbahaya – inilah mengapa penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter kulit tentang tahi lalat yang dimaksud.

Dilansir dari laman healthline.com, ada tiga jenis utama tahi lalat:

Pertama, tahi lalat bawaan. Menurut American Osteopathic College of Dermatology (AOCD), tahi lalat bawaan hadir saat lahir, yang mempengaruhi sekitar 1 dari setiap 100 bayi. Bentuknya bisa datar dengan warna yang bervariasi, tetapi sebagian besar tahi lalat bawaan tidak menjadi kanker.

Jenis kedua, tahi lalat yang muncul di kemudian hari. Sebagian besar, jenis tahi lalat satu ini berwarna cokelat dan muncul karena kerusakan kulit akibat sinar matahari. Bentuknya bulat tanpa perubahan signifikan seiring bertambahnya usia. Jenis tahi lalat ini juga bisa menjadi gelap seiring bertambahnya usia, tetapi belum tentu berubah menjadi kanker melanoma.

Terakhir, ada tahi lalat atipikal. Tidak seperti kedua jenis tahi lalat sebelumnya, tahi lalat atipikal memiliki risiko lebih besar menjadi kanker. AOCD memperkirakan bahwa 1 dari 10 orang di AS memiliki setidaknya satu nevus atipikal.

Bentuk tahi lalat ini juga relatif lebih besar dan memiliki batas berbentuk tidak teratur. Sementara melanoma diklasifikasikan sebagai tahi lalat yang lebih gelap, nevi atipikal bisa datang dalam berbagai jenis warna.

RAUDATUL ADAWIYAH NASUTION